Buku ini tidak ingin menjadi kumpulan cerita yang menghibur. Bahkan, sejak awal ia tampak ragu untuk disebut kumpulan cerita sama sekali. Cerita-cerita Pendek tentang Cerita Pendek lebih tepat dibaca sebagai buku yang mempertanyakan apakah cerita masih mungkin diceritakan tanpa jatuh pada kebiasaan lama: alur yang rapi, tokoh yang meyakinkan, dan penutup yang menenangkan.
Keraguan itu bukan sikap setengah hati, melainkan posisi yang disengaja. Buku ini seperti berdiri sedikit menjauh dari tradisi bercerita, menatapnya dengan curiga, lalu bertanya ulang: untuk apa cerita dibuat, dan apa yang sebenarnya terjadi ketika kita menyebut sesuatu sebagai cerita. Di titik ini, pembaca tidak diajak masuk, melainkan diminta berhenti sejenak di ambang.
Iwan Simatupang menulis dengan jarak yang dingin dan bahasa yang menahan diri. Kalimat-kalimatnya tidak berusaha memikat atau membangun suasana emosional. Cerita-cerita di dalam buku ini sering kali berhenti sebelum benar-benar menjadi cerita. Tokoh muncul tanpa diberi ruang untuk tumbuh atau berubah. Mereka hadir sekadar sebagai penanda, bukan pusat empati. Konflik diperlihatkan tanpa diberi janji penyelesaian. Narasi bergerak bukan untuk membawa pembaca ke klimaks, melainkan untuk berhenti di tengah pertanyaan yang tidak dijawab.
Dalam banyak bagian, pembaca akan merasa seolah sedang membaca kerangka cerita yang sengaja dibiarkan kosong. Ada peristiwa, tetapi tidak diarahkan. Ada tokoh, tetapi tidak dijelaskan. Ada situasi, tetapi tidak diberi makna final. Kekosongan ini bukan kekurangan teknis, melainkan keputusan estetik. Buku ini memilih untuk tidak menutup celah.
Keantimainstream-an buku ini terletak pada sikapnya terhadap bentuk. Ia tidak memercayai cerita sebagai sarana penyaluran emosi. Ia tidak menggunakan konflik sebagai mesin penggerak yang harus bekerja sampai tuntas. Ia tidak menganggap pembaca sebagai pihak yang perlu dilayani dengan kepuasan naratif. Yang dilakukan buku ini adalah membongkar proses bercerita itu sendiri, memperlihatkan sendi-sendinya, dan membiarkan sebagian runtuh.
Cerita, dalam buku ini, tidak lagi menjadi wadah makna. Ia berubah menjadi objek yang dipertanyakan. Apa yang tersisa ketika cerita tidak ingin membawa pesan? Apa yang terjadi ketika bahasa tidak diarahkan untuk membujuk atau menggerakkan perasaan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab secara eksplisit, tetapi dibiarkan menggantung sepanjang buku.
Buku ini layak dibaca karena ia mengganggu kebiasaan membaca. Pembaca yang terbiasa mencari “apa ceritanya” akan merasa kehilangan pegangan sejak halaman-halaman awal. Tidak ada alur yang bisa diikuti dengan nyaman. Tidak ada tokoh yang bisa dijadikan titik sandar emosional. Buku ini menolak keterlibatan sentimental dan menahan pembaca pada jarak yang konstan.
Namun, justru dari penolakan itulah buku ini bekerja. Ketika emosi tidak disediakan, pembaca dipaksa memperhatikan hal-hal lain: bahasa yang kering, struktur yang timpang, dan keputusan naratif yang terasa ganjil. Membaca berubah menjadi aktivitas berpikir, bukan sekadar mengikuti. Buku ini tidak mengajak pembaca masuk ke dunia cerita, tetapi mengajak pembaca berdiri di luar, mengamati bagaimana cerita dibangun—dan bagaimana ia bisa gagal dengan sengaja.
Iwan Simatupang tidak menulis untuk menyenangkan. Ia menulis untuk menguji batas: batas cerita, batas bahasa, dan batas kesabaran pembaca. Dalam konteks sastra Indonesia, buku ini berdiri sebagai eksperimen yang tidak populer. Ia terlalu reflektif untuk pembaca umum yang mencari hiburan, tetapi juga terlalu naratif untuk pembaca teori sastra yang mencari kerangka akademik. Ia berada di wilayah antara, wilayah yang tidak nyaman dan jarang dihuni.
Inilah salah satu alasan mengapa buku ini jarang ditengok. Ia tidak mudah dipasarkan karena tidak menawarkan pengalaman membaca yang segera memuaskan. Ia tidak memberi kepuasan instan, tidak menyediakan kutipan yang mudah dibagikan, dan tidak cocok dijadikan bahan diskusi ringan. Buku ini menuntut kesabaran dan kesediaan untuk membaca tanpa imbalan emosional yang jelas.
Selain itu, meskipun nama Iwan Simatupang dikenal di kalangan tertentu, karyanya tidak pernah benar-benar masuk arus utama pembacaan. Buku ini khususnya jarang dicetak ulang dan sulit ditemukan. Ia tidak diwariskan sebagai bacaan wajib, tidak dimasukkan dalam daftar populer, dan tidak diperkenalkan secara sistematis kepada pembaca baru. Ia hidup di pinggiran, dibaca sesekali, lalu kembali menghilang.
Namun, justru karena jarang dibaca, buku ini tetap segar. Ia tidak aus oleh interpretasi yang berulang-ulang. Setiap pembaca yang datang membawa kebingungan sendiri, dan kebingungan itu tidak diluruskan oleh teks. Buku ini tidak memberi jawaban, tetapi mempertahankan pertanyaan tentang apa arti bercerita di tengah dunia yang terus menuntut kejelasan, efisiensi, dan kesimpulan.
Cerita-cerita Pendek tentang Cerita Pendek layak dibaca oleh mereka yang tidak mencari cerita, tetapi ingin memahami mengapa cerita sering kali gagal menjelaskan hidup. Buku ini tidak memberi jalan keluar, tidak menyediakan pegangan, dan tidak menjanjikan rasa selesai. Ia hanya menunjukkan bahwa kebingungan, ketika dibiarkan apa adanya, dapat menjadi bentuk kejujuran yang paling keras kepala




