Kami Mendengar Setiap Kisah 

 

Dari suara yang nyaris tak terdengar hingga cerita yang lama dipendam. Kisah tentang hidup yang dijalani dalam sunyi, tentang perlawanan kecil yang sering luput dicatat. Kami percaya, setiap perjalanan manusia layak didengar, dirawat, dan dituliskan agar tak hilang ditelan waktu.



 

Tidak semua kisah lahir dari peristiwa besar atau tokoh yang dielu-elukan


Rentetan kisah tumbuh dari keseharian yang tampak biasa: tangan yang lelah setelah bekerja seharian, rumah yang berdiri di batas penggusuran, harapan yang disimpan diam-diam agar tidak patah.

Di sanalah kami memilih untuk berhenti sejenak, mendengar dengan sabar, tanpa tergesa memberi tafsir.

Bagi kami, mendengar adalah bentuk keberpihakan. Ia menuntut waktu, kerendahan hati, dan kesediaan untuk tidak selalu menjadi pusat cerita. Kami belajar bahwa setiap orang memiliki bahasa dan iramanya sendiri, dan tugas kami bukan menyederhanakan, melainkan menjaga agar suaranya tetap utuh ketika dituliskan.

Kami menuliskan kisah-kisah itu bukan untuk menggurui atau menjadikannya komoditas. Tulisan hadir sebagai ruang aman, tempat pengalaman hidup disimpan, dibagikan, dan dipertemukan dengan pembaca yang mungkin sedang mencari cermin bagi dirinya sendiri. Dari sana, cerita bisa bekerja pelan-pelan—menghubungkan satu pengalaman dengan pengalaman lain, menumbuhkan empati, dan membuka kemungkinan percakapan baru.

Kami percaya, perubahan tidak selalu datang lewat teriakan. Kadang ia hadir lewat halaman-halaman yang dibaca dalam diam, lewat kalimat yang menetap lama di ingatan, atau lewat kesadaran kecil bahwa kita tidak sendiri. Selama masih ada kisah yang ingin disampaikan, kami akan tetap mendengar, menjaga, dan menuliskannya dengan penuh tanggung jawab.

 


 

Dari kerja yang sunyi itu, kami belajar bahwa menulis juga adalah proses saling menjaga


M enjaga agar cerita tidak tercerabut dari konteksnya, menjaga agar luka tidak dipertontonkan tanpa alasan, dan menjaga agar harapan tetap punya ruang untuk bernapas. Kami tidak mencari kisah yang sempurna, karena hidup jarang berjalan lurus. Yang kami rawat justru kejujuran—tentang jatuh bangun, tentang ragu, tentang keberanian kecil yang sering tak dianggap.

Kami membuka ruang bagi siapa pun yang ingin berbagi, tanpa harus menjadi siapa-siapa terlebih dahulu. Sebab bagi kami, setiap manusia sudah cukup penting dengan pengalamannya sendiri. Dari perjumpaan-perjumpaan itulah kami percaya, tulisan bisa menjadi jembatan: menghubungkan yang jauh, mendekatkan yang terpisah, dan mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu harus sendiri.

Selama masih ada cerita yang mencari tempat pulang, kami akan tetap menyediakan halaman. Mendengar dengan saksama, menulis dengan hormat, dan membiarkan kisah-kisah itu berjalan menemukan pembacanya.

 


Cerita mengungkap makna tanpa harus membuat kesalahan menjadi aturan.


— Hannah Arendt

 

Cerita tidak hadir untuk menggurui atau menutup kesalahan dengan aturan yang kaku. Ia bekerja dengan cara yang lebih sunyi dan manusiawi: membuka makna, memberi ruang untuk berpikir, dan memungkinkan kita memahami pengalaman hidup tanpa memaksanya menjadi kebenaran tunggal. Dalam cerita, manusia tidak direduksi menjadi angka, data, atau kesimpulan cepat. Ia tampil dengan keraguan, luka, dan harapannya sendiri. Cerita memberi jarak yang sehat antara peristiwa dan penilaian, sehingga empati bisa tumbuh tanpa paksaan. Melalui kisah-kisah itulah kita belajar melihat dunia dengan lebih pelan, lebih jujur, dan lebih adil—tanpa harus meniadakan kompleksitas hidup manusia.


 

Cerita sebagai Ruang Dengar bagi Pengalaman Manusia yang Kerap Terpinggirkan


C adalah ruang dengar, tempat pengalaman manusia bisa hadir apa adanya. Di ruang ini, suara-suara yang selama ini terpinggirkan tidak dituntut untuk lantang atau rapi agar dianggap sah. Mereka diberi waktu, diberi napas, dan didengarkan dengan penuh hormat. Kami percaya, setiap pengalaman memiliki nilai, tak peduli seberapa kecil ia tampak di mata dunia. Dengan mendengar melalui cerita, kami belajar menahan diri dari penilaian cepat dan kesimpulan tergesa. Perlahan, empati tumbuh bukan dari rasa iba, melainkan dari pemahaman yang jujur. Di sanalah cerita bekerja sebagai jembatan—menghubungkan pengalaman hidup, merawat ingatan, dan meneguhkan keberpihakan.


Pada awalnya, kami tidak lahir dengan nama yang keras atau gestur yang gagah. Kami tumbuh dari obrolan-obrolan kecil di halaman depan Kampus FISIP Universitas Airlangga, sekitar tahun 2000. Tepatnya, di bawah pohon Kalpataru yang berdiri teduh—tempat kami kerap duduk melingkar, berbagi rokok, membiarkan kopi mendingin, dan memperdebatkan banyak hal tentang dunia yang terasa tidak baik-baik saja. Dari situlah nama Kolektif Kalpataru kami ambil, bukan sebagai simbol yang muluk, melainkan sebagai penanda ruang belajar kami bersama.

Kami menyebut diri kelompok studi. Kami membaca buku, mendiskusikan teori, bertukar gagasan dengan suara yang kadang meninggi lalu merendah kembali. Namun perlahan kami sadar, yang kami pelajari bukan hanya teks. Di bawah pohon itu pula kami belajar tentang keberpihakan, tentang bagaimana pengetahuan seharusnya turun dari bangku kelas dan menyentuh kehidupan nyata. Kalpataru menjadi saksi awal kegelisahan kami yang belum bernama.

Langkah kami kemudian bergerak keluar dari pagar kampus. Surabaya membuka wajah lain yang jarang hadir dalam silabus: kampung-kampung yang terdesak pembangunan, buruh yang hidup tanpa jaminan, kelompok-kelompok marjinal yang suaranya kerap dipotong sebelum selesai bicara. Kami datang dengan langkah ragu, belajar mendengar lebih lama daripada berbicara. Pendampingan menjadi kerja sehari-hari—menemani, mencatat, dan bertahan bersama ketika keadaan memaksa.

Seiring perjalanan, kami merasa perlu menamai diri dengan sesuatu yang lebih mencerminkan kerja kami. Maka lahirlah Perkumpulan Palu Gede. Palu kami maknai sebagai alat kerja dan daya dobrak, sementara gede kami letakkan sebagai harapan agar keberpihakan kami cukup kuat untuk meretakkan ketidakadilan, meski perlahan dan sering tanpa sorak. Kami tetap bekerja dengan cara yang senyap, karena kami tahu perubahan jarang datang dengan gegap gempita.

Waktu berjalan, anggota datang dan pergi, tetapi semangat yang kami rawat sejak di bawah pohon Kalpataru tak pernah benar-benar pergi. Hingga pada tahun 2018, kami berhenti sejenak dan menengok kembali perjalanan yang telah dilalui. Terlalu banyak kisah yang kami jumpai, terlalu banyak perjalanan anak manusia yang kami dampingi, namun nyaris tak tercatat. Suara-suara itu lirih, sering hilang begitu saja.

Dari kegelisahan itu, kami memutuskan melebarkan langkah ke dunia penerbitan. Bagi kami, menerbitkan bukan sekadar mencetak buku, melainkan memberi ruang hidup bagi cerita-cerita yang terpinggirkan. Kisah buruh, warga kampung, perempuan, dan mereka yang hidup di sela-sela kota—cerita yang jarang mendapat tempat, tetapi layak untuk diingat.

Hari ini, kami masih berjalan sebagai Perkumpulan Palu Gede. Kami bukan monumen dan tidak mengklaim telah sampai. Kami adalah proses yang terus bergerak, berangkat dari bawah pohon Kalpataru, menyusuri kampung-kampung Surabaya, hingga ke halaman-halaman buku. Selama masih ada suara lirih yang nyaris tak terdengar, kami percaya: selalu ada alasan untuk tetap berjalan.