Seseorang mengatakan, para perempuan yang ada di poster ini memiliki begitu banyak luka batin dalam hidupnya. Ya, itu tidak dapat dipungkiri, pun siapapun yang sudah dilahirkan pasti memiliki luka, fisik maupun batin.
Kita belajar berdiri, terjatuh berkali-kali, belajar berjalan, pun pasti terjatuh, berlari, belajar bersepeda dan apapun itu sering membuat kita terjerembab, terjungkal, dan bahkan terluka. Ada luka yang meninggalkan bekas di tubuh dan ada luka yang tertinggal sebagai ingatan.
Luka pasti memiliki efek, seperti goresan, sayatan, bahkan borok yang tak kunjung sembuh. Sama seperti luka fisik, luka batin pun meninggalkan jejak, seperti bipolar, schizoprenia, dan banyak lagi. Luka pada dasarnya bisa disembuhkan, namun kesembuhan seperti apa yang kemudian menjadi pertanyaannya, bukan? Para penderita diabetes akan terpaksa mengkonsumsi obat pengontrol gula darah atau menyuntikkan insulin ke tubuh mereka. Selama mereka melakukan ini, mereka secara medis dikatakan “sembuh”. Namun apakah diabetes hilang dari tubuh mereka? Tidak bukan, namun stabil di titik tertentu dan tidak menimbulkan efek yang menyakitkan bagi penderitanya.
Sama halnya dengan luka batin yang terlanjur menimbulkan gangguan mental. Banyak orang yang kemudian dipaksa mengkonsumsi obat-obat psikiatrik yang diresepkan dokter. Namun banyak juga orang yang mengalami luka batin menyembuhkan lukanya dengan meditasi, memaafkan kejadian yang membuatnya terluka, dan bahkan berusaha melupakannya. Ada yang berhasil dan banyak pula yang gagal dalam upaya menyembuhkan luka batin.
Terlepas dari itu semua, para perempuan ini adalah segelintir dari sekian banyak perempuan kuat di semesta ini. Luka yang mereka miliki tidak membuat mereka meratap dan meraung-raung. Mereka justru berjuang di banyak tempat sembari tetap berusaha menyembuhkan luka. Apakah sudah selesai proses penyembuhan itu? Beberapa mengatakan sudah, namun hidup terus berjalan, artinya ketika luka lama sembuh, maka luka baru akan muncul. Begitu seterusnya, sampai kita dihadapkan pada ujung pelangi.
Pun para perempuan ini telah bersitahan dengan luka-luka baru yang tengah dan akan mereka hadapi, karena apa yang tidak membunuhmu, justru membuatmu kuat, bukan?
Sebagai penerbit, Palu Gede memandang Labirin bukan sekadar antologi, melainkan ruang temu bagi suara-suara yang selama ini kerap teredam. Buku ini menghimpun 15 kisah perempuan penyintas gangguan mental, yang masing-masing berjalan dengan keberanian mereka sendiri menelusuri lorong-lorong terdalam batin. Kami memilih judul *Labirin* karena pengalaman kesehatan mental memang jarang bergerak lurus; ia berlapis, berulang, dan sering kali menipu arah.
Membaca halaman demi halaman antologi ini serupa memasuki sebuah labirin besar yang di dalamnya terdapat labirin-labirin kecil. Setiap kisah menyuguhkan kerumitan berbeda: kecemasan, depresi, trauma, kehilangan, hingga pergulatan dengan stigma sosial. Ada jalan buntu yang membuat napas sesak, ada lorong panjang yang menguras tenaga, dan ada pula ruang gelap yang terlalu lama dihuni karena keluar terasa mustahil. Namun, sebagaimana labirin pada hakikatnya, selalu ada kemungkinan jalan keluar—meski tidak mudah, tidak cepat, dan tidak selalu utuh.
Yang membuat Labirin istimewa bagi kami adalah energi para penulisnya. Mereka tidak menunggu pintu terbuka dengan rapi. Dengan bahasa yang jujur dan kadang menyakitkan, mereka menjebol dinding-dinding yang membungkam: dinding rasa malu, dinding takut dihakimi, dan dinding sunyi yang kerap dibangun oleh orang lain. Tindakan menulis menjadi cara mereka bernapas, sekaligus perlawanan terhadap kebuntuan.
Palu Gede menerbitkan Labirin dengan keyakinan bahwa kisah-kisah ini bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang keberanian memilih bergerak. Dan pertanyaan di ujung labirin ini kami serahkan pada pembaca: ketika kau sadar berada di labirin—siapa pun penciptanya—apakah kau akan diam, atau mulai mencari celah untuk keluar?


