Pada awalnya, kami tidak lahir dengan nama yang keras atau gestur yang gagah. Kami tumbuh dari obrolan-obrolan kecil di halaman depan Kampus FISIP Universitas Airlangga, sekitar tahun 2000. Tepatnya, di bawah pohon Kalpataru yang berdiri teduh—tempat kami kerap duduk melingkar, berbagi rokok, membiarkan kopi mendingin, dan memperdebatkan banyak hal tentang dunia yang terasa tidak baik-baik saja. Dari situlah nama Kolektif Kalpataru kami ambil, bukan sebagai simbol yang muluk, melainkan sebagai penanda ruang belajar kami bersama.
Kami menyebut diri kelompok studi. Kami membaca buku, mendiskusikan teori, bertukar gagasan dengan suara yang kadang meninggi lalu merendah kembali. Namun perlahan kami sadar, yang kami pelajari bukan hanya teks. Di bawah pohon itu pula kami belajar tentang keberpihakan, tentang bagaimana pengetahuan seharusnya turun dari bangku kelas dan menyentuh kehidupan nyata. Kalpataru menjadi saksi awal kegelisahan kami yang belum bernama.
Langkah kami kemudian bergerak keluar dari pagar kampus. Surabaya membuka wajah lain yang jarang hadir dalam silabus: kampung-kampung yang terdesak pembangunan, buruh yang hidup tanpa jaminan, kelompok-kelompok marjinal yang suaranya kerap dipotong sebelum selesai bicara. Kami datang dengan langkah ragu, belajar mendengar lebih lama daripada berbicara. Pendampingan menjadi kerja sehari-hari—menemani, mencatat, dan bertahan bersama ketika keadaan memaksa.
Seiring perjalanan, kami merasa perlu menamai diri dengan sesuatu yang lebih mencerminkan kerja kami. Maka lahirlah Perkumpulan Palu Gede. Palu kami maknai sebagai alat kerja dan daya dobrak, sementara gede kami letakkan sebagai harapan agar keberpihakan kami cukup kuat untuk meretakkan ketidakadilan, meski perlahan dan sering tanpa sorak. Kami tetap bekerja dengan cara yang senyap, karena kami tahu perubahan jarang datang dengan gegap gempita.
Waktu berjalan, anggota datang dan pergi, tetapi semangat yang kami rawat sejak di bawah pohon Kalpataru tak pernah benar-benar pergi. Hingga pada tahun 2018, kami berhenti sejenak dan menengok kembali perjalanan yang telah dilalui. Terlalu banyak kisah yang kami jumpai, terlalu banyak perjalanan anak manusia yang kami dampingi, namun nyaris tak tercatat. Suara-suara itu lirih, sering hilang begitu saja.
Dari kegelisahan itu, kami memutuskan melebarkan langkah ke dunia penerbitan. Bagi kami, menerbitkan bukan sekadar mencetak buku, melainkan memberi ruang hidup bagi cerita-cerita yang terpinggirkan. Kisah buruh, warga kampung, perempuan, dan mereka yang hidup di sela-sela kota—cerita yang jarang mendapat tempat, tetapi layak untuk diingat.
Hari ini, kami masih berjalan sebagai Perkumpulan Palu Gede. Kami bukan monumen dan tidak mengklaim telah sampai. Kami adalah proses yang terus bergerak, berangkat dari bawah pohon Kalpataru, menyusuri kampung-kampung Surabaya, hingga ke halaman-halaman buku. Selama masih ada suara lirih yang nyaris tak terdengar, kami percaya: selalu ada alasan untuk tetap berjalan.